Haramnya Hewan Anjing

Memelihara Anjing

Saat ini, begitu seringnya kita menyaksikan dan mendengar orang yang memelihara anjing. Bahkan sebagian orang memperlakukannya dengan istimewa melebihi manusia, tidur bersamanya dan diberi makanan melebihi makanan manusia. Padahal, memelihara anjing tanpa suatu kebutuhan, seperti untuk menjaga rumah, kebun, hewan ternak dan berburu tidak diperbolehkan.

Hal ini dijelaskan Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya:

“ Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qirâth ( satu qirâth adalah sebesar gunung Uhud ).”[1]

‘Abdullâh mengatakan bahwa Abu Hurairah r.a. juga mengatakan, “Atau anjing untuk menjaga tanaman.”

( HR. al-Bukhâri )

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau pemburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qirâth (satu qirâth adalah sebesar gunung Uhud).” (HR. Muslim 2940)

Iman An-Nawâwi rahimahullâh memandang haramnya memelihara anjing dengan membuat bab dari kitab Riyâdhush-Shâlihîn, bab Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk Berburu, Menjaga Hewan Ternak atau Menjaga Tanaman.[4]

Najisnya Air Liur Anjing

Air liur anjing adalah najis berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu, Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“ Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka tumpahkanlah, lalu cucilah 7 kali.”[5]

Dalam riwayat lain:

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu bahwa Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“ Sucinya bejana kalian yang dimasuki mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah” (HR Muslim no. 420 dan Ahmad 2/427)

Jumhur ulama berpendapat bahwa air liur anjing itu najis, bahkan sebagian Ulama memandang levelnya adalah mughallazhah (najis yang berat). Sebab, untuk mensucikannya harus dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan menggunakan tanah.

Prof. Thabârah dalam kitab Rûh ad-Dîn al-Islâmi menyatakan,

“Di antara hukum Islam bagi perlindungan badan adalah penetapan najisnya anjing. Ini adalah mu’jizat ilmiyah yang dimiliki Islam yang mendahului kedokteran modern. Kedokteran modern menetapkan bahwa anjing menyebarkan banyak penyakit kepada manusia, karena anjing mengandung cacing pita yang menularkannya kepada manusia dan menjadi sebab manusia terjangkit penyakit yang berbahaya, bisa sampai mematikan. Sudah ditetapkan bahwa seluruh anjing tidak lepas dari cacing pita sehingga wajib menjauhkannya dari semua yang berhubungan dengan makanan dan minuman manusia.[6]

Hukum Jual Beli Anjing

Tidak diperbolehkan menjual anjing dan hasil penjualannya pun tidak halal, baik itu anjing penjaga, anjing untuk berburu atau lainnya. [7]

Yang demikian itu didasarkan pada keumuman hadits yang diriwayatkan Abu Mas’ûd r.a. Beliau berkata:

“Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam melarang hasil penjualan anjing, mahar (hasil) pelacur, dan upah dukun.” [8]

Hukum Memakan Anjing

Mayoritas Ulama mengharamkan makan daging anjing, walaupun disembelih secara syar’i, apalagi bila dibunuh dengan cara-cara yang melanggar syari’at. Ada beberapa argumen yang disampaikan mereka berkenaan dengan keharaman daging anjing ini.

Anjing termasuk golongan As-Siba’ (hewan buas) yang memiliki taring untuk memangsa korbannya.

Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam telah melarangnya dalam beberapa hadits, di antaranya:

Hadits Abu Hurairah yang berbunyi, bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda:

“Semua yang memiliki gigi taring dari hewan buas maka memakannya haram.” [9]

Hadits Ibnu Abbâs radhiyallâhu’anhu yang berbunyi:

“Sesungguhnya Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam melarang makan semua hewan buas yang bertaring.” [10].

Berdasarkan hadits-hadits ini, maka harimau, singa, serigala, dan anjing haram dimakan. Adanya larangan memanfaatkan hasil penjualan anjing, menunjukkan keharaman mengkonsumsi dagingnya.

Jika harganya terlarang, maka dagingnya pun haram. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :

“ Sesungguhnya jika Allah mengharamkan kepada suatu kaum memakan sesuatu maka (Allah) haramkan harganya atas mereka ”.[12]

Ayat yang menerangkan pembatasan hewan yang diharamkan yaitu firman Allâh Ta’ala :

Katakanlah, “Tiadalah aku memperoleh dalam wahyu yang diwahyukan kepada-Ku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Rabbmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs al-An’âm/6:145)

Ayat di atas adalah ayat Makiyah, yang turun sebelum hijrah, bertujuan untuk membantah orang-orang jahiliyah yang mengharamkan al-Bahîrah, as-Sâ‘ibah, al-Washîlah dan al-Hâm. Kemudian setelah itu Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya mengharamkan banyak hal, seperti daging keledai, daging bighâl, dll. Termasuk di dalamnya semua hewan buas yang bertaring.

Ayat di atas tidak lain hanyalah memberitakan bahwa tidak ada di waktu itu yang diharamkan kecuali yang disebutkan dalam ayat tersebut. Kemudian baru turun setelahnya wahyu yang mengharamkan semua hewan buas yang bertaring, sehingga wajib diterima dan diamalkan.

Syaikh Prof. DR. Shâlih bin ‘Abdillâh al-Fauzân merâjihkan pengharaman semua hewan buas yang bertaring, beliau menukilkan pernyataan Syaikh Muhammad al-Amien asy-Syinqiti yang menyatakan,

“Semua yang sudah jelas pengharamannya dengan jalan periwayatan yang shahîh dari al-Qur ‘ân atau Sunnah, maka hukumnya haram dan ditambahkan empat yang diharamkan dalam ayat tersebut. Hal ini tidak bertentangan dengan al-Qur‘ân, karena sesuatu yang diharamkan di luar ayat tersebut dilarang setelahnya. Memang pada waktu turunnya ayat itu, tidak ada yang diharamkan kecuali empat tersebut. Pembatasannya sudah pasti benar ada sebelum pengharaman yang lainnya. Apabila muncul pengharaman sesuatu selainnya dengan satu perintah yang baru, maka hal itu tidak menafikan pembatasan yang pertama.[13]

Kebenaran pendapat yang mengharamkan ini dikuatkan juga dengan tinjauan medis bahwa anjing memiliki cacing pita yang berbahaya bagi manusia. Ditambah lagi air liur anjing yang najis, sehingga setidaknya anjing meminum air liurnya yang najis dan mempengaruhi dagingnya. Padahal Rasululâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam melarang kita memakan daging hewan yang mengkonsumsi najis dan kotoran, sebagaimana dalam hadits yang berbunyi:

“ Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam melarang makan hewan al-Jalâlah (pemakan najis dan kotoran) dan susunya.” [14]

Dengan demikian sangat jelas sekali keharaman daging anjing. Apalagi, realitanya banyak orang yang memakan daging anjing yang tidak disembelih secara syar’i. Semoga tulisan ini dapat membantu menjelaskan permasalahan yang selama ini muncul di masyarakat khususnya umat islam mengenai keharaman anjing.

Ditulis ulang dari berbagai sumber

One response to “Haramnya Hewan Anjing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s